VisualJambi, Kota Jambi. – Keindahan malam di Ikon Wisata Jambi, Jembatan Gentala Arasy, perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Alih-alih menyuguhkan panorama Sungai Batanghari yang romantis dengan siluet lampu hias, jembatan kebanggaan masyarakat Jambi itu kini justru menyisakan kekecewaan dan rasa malu bagi para wisatawan.
Nuril, seorang pengunjung asal Sarolangun, datang bersama keluarga besarnya dengan harapan dapat mengabadikan momen kebersamaan di atas jembatan ikonik tersebut.
Namun, langkahnya terhenti. Bukan karena keindahan, melainkan karena pekatnya kegelapan yang menyelimuti hampir seluruh badan jembatan.
“Saya sangat malu sekali melihatnya. Saya datang dari Sarolangun bersama keluarga, mau berfoto malah gelap gulita. Yang saya lihat malah banyak pasangan muda-mudi duduk di tempat gelap sampai berpelukan,” ujarnya dengan nada kecewa, Selasa (14/7).
Kondisi ini bukan hanya masalah estetika, melainkan telah bergeser menjadi persoalan keamanan dan moral publik.
Para tukang parkir yang setiap malam mangkal di sekitar kawasan tersebut turut merasakan keresahan yang sama.
“Kami tukang parkir juga sangat resah. Kalau bisa dikasih tahu ke pihak berwajib supaya lebih ketat menjaga ikon wisata pada malam hari, supaya tidak mencoreng nama Gentala Arasy dengan ulah perbuatan tidak senonoh pasangan muda-mudi,” keluh salah seorang juru parkir setempat.
Fahmi, wisatawan yang datang dari Sengeti, Kabupaten Muaro Jambi, bahkan memilih membalikkan badannya dan mengajak anaknya pulang.
Ia sontak terperanjat melihat pemandangan buruk di atas jembatan yang gelap. “Memalukan sekali. Jembatan tidak ada lampu, ditambah banyak pasangan berduaan di tempat gelap. Kami harapkan keamanan di sini lebih diperketat,” tegasnya.
Fenomena ini menjadi ironi yang luar biasa. Gentala Arasy bukanlah tempat sembarangan; lokasinya tepat di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi, menjadikannya etalase utama kota. Namun, matinya lampu penerangan sepanjang jembatan tanpa pengawasan dari pihak pengamanan menciptakan ruang kosong yang dimanfaatkan oknum untuk menyalahgunakan fungsi ruang publik.
Nuril menyampaikan pesan kerasnya kepada Pemerintah Daerah agar tidak tinggal diam. “Ini Ikon Wisata Jambi, tolong diperhatikan Pemerintah. Jangan biarkan ikon kebanggaan kita menjadi tempat mesum. Pencahayaan dan patroli malam harus segera diaktifkan kembali,” tandasnya.
Jika tidak ada tindakan tegas dan perbaikan infrastruktur pencahayaan, bukan tidak mungkin “Singgasana Melayu” ini akan kehilangan pamor. Alih-alih menjadi destinasi favorit keluarga, Jembatan Gentala Arasy terancam menjadi simbol kelam pembiaran yang merusak citra pariwisata Jambi.
(sn)














Discussion about this post