VisualJambi, Kota Jambi. – tersembunyi aliran uang panas yang dikendalikan oleh “bayang-bayang” penguasa jalanan. Praktik pungutan liar (pungli) yang sistematis diduga kuat beroperasi di area tersebut, mengubah momen kelangkaan menjadi lahan bisnis gelap bagi segelintir orang.
Berdasarkan pengakuan eksklusif seorang narasumber yang akrab dengan seluk-beluk pelangsiran di lokasi, praktik ini sedang di alami langsung dan terstruktur.
“Ini bukan sekadar uang rokok. Ini setoran wajib,” ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan karena takut akan ancaman.
Mekanismenya pun terungkap gamblang. Bagi para sopir tronton yang ingin mendapatkan nomor antrean prioritas (1-10), kantong mereka harus terkuras sebesar Rp50.000.
Namun, bagi yang tak mau membuang waktu berjam-jam dan ingin langsung ngirit masuk ke jalur pengisian, tarifnya melonjak drastis antara Rp100.000 hingga Rp150.000 per mobil.
Nama-nama pun mulai berserak dalam kesaksian. Seorang pria berjuluk Birong alias Afrizal Harahap disebut sebagai penadah setoran dari tangan-tangan pelangsir di lapangan.
Ia dibantu oleh beberapa orang yang bertugas mengatur lalu lintas antrean, yakni Wandi, Faisal, Jimmy, dan Maruliun.
Namun, ada arah nama umar diduga sosok preman berpengaruh dalam pengendalian lokasi antrean para pelangsir. Sumber bahkan mengklaim memiliki bukti transfer dana kepada nomor yang terafiliasi dengan Umar, meski redaksi media pelopor kriminal khusus hingga berita ini diturunkan masih melakukan verifikasi mendalam atas klaim tersebut.
Diduga ada Kericuhan yang sempat Menghentikan Nozzle pengiisian BBM di operator tersebut.
Ketegangan di lokasi memuncak. Pada hari yang sama, informasi yang dihimpun menyebutkan terjadi keributan yang menyebabkan dc cd l berujung pada penghentian pelayanan pengisian BBM secara sepihak—atau dalam istilah awam, nozzle dimatikan.
Namun, ketika tim investigasi mengonfirmasi hal ini, pihak manajemen SPBU bersikukuh membantah. “Jam empat saya masih ada di situ, tidak ada keributan,” kilah manajemen dengan tegas melalui sambungan telepon.
Sikap Manajemen: Tahu, Tak Tahu, atau Pura-pura?
Yang paling mencolok dari pengakuan manajemen adalah sikap defensif mereka. Dengan enteng, pihak pengelola SPBU melemparkan bukan tanggung jawabnya, tidak tahu menahu siapa dan apa peran yang disebut saat ada kejadian. .
“Itu ulah pelangsir dan orang di sana yang mengendalikan pelangsirnya. Kalau masalah itu kami tidak tahu. Yang kami kelola hanya operasional SPBU, sedangkan urusan antrean di luar area merupakan urusan kita dan hanya persoalan parkir yang kita tertibkan agar tidak terganggu pengguna jalan lain,” ujar manajemen.
Pernyataan ini justru memantik pertanyaan besar. Jika praktik pungli terjadi persis di depan halaman SPBU dan melibatkan kelancaran pasokan BBM yang mereka jual, mungkinkah manajemen benar-benar tak tahu? Apakah ini pembiaran, atau justru ada skema “bagi hasil” yang lebih rapi di balik layar? Manajemen bahkan membantah mengenal nama Birong, Wandi, atau Umar yang disebutkan oleh sumber.
Hingga berita ini diterbitkan, aparat penegak hukum, khususnya kepolisian sektor setempat, belum memberikan keterangan resmi. Redaksi juga masih berupaya menjemput konfirmasi dari pihak-pihak yang disebut namanya untuk memenuhi asas keberimbangan.
Satu hal yang pasti: Di tengah hiruk-pikuk kemacetan dan asap knalpot SPBU Tanjung Lumut, ada aroma uang dan kuasa yang mengambang.
Mampukah aparat menyingkap tabir “mafia antrean” ini, atau biarkan rakyat kecil terus menjadi korban permainan harga dalam kelangkaan?
“Bayangkan, jika dalam sehari ada puluhan tronton yang ‘dilayani’ khusus, berapa pundi-pundi yang terkumpul? Ini bisnis yang sangat menggiurkan,”
Untuk mengetahui lanjutan, Media Kami akan terus mengikuti perkembangan kasus ini, kamis (02/07)
(Lana)














Discussion about this post