VisualJambi, Kota Jambi. – Ada yang berbeda dalam kemenangan Abel Gaesca Sandya sebagai Presiden Mahasiswa UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Bukan sekadar angka 39 berbanding 28 yang mengantarkannya ke kursi kepemimpinan tertinggi di DEMA, melainkan keresahan yang ia bawa sejak awal.
Mahasiswa Fakultas Dakwah ini bukan wajah baru di panggung organisasi. Sebagai mantan Gubernur Fakultas Dakwah, ia tahu persis bagaimana aspirasi mahasiswa kerap hanya menjadi catatan kaki tanpa tindak lanjut.
“Alhamdulillah saya terpilih,” ucapnya Kamis (5/3/2026) dengan nada rendah hati, namun matanya berpendar optimisme.
Ia datang dengan visi yang tak muluk-muluk: mewujudkan DEMA sebagai lembaga berkapasitas dan berintegritas, memberikan kebermanfaatan nyata.
Tapi yang membuat mahasiswa penasaran, tiga program unggulannya terasa berbeda. Tak melulu soal demonstrasi dan turun ke jalan.
Ngopi Bareng Rektorat. Itulah ide pertamanya. Ruang santai tapi bermakna antara pimpinan kampus dan ormawa.
Minum kopi, bicara terbuka, menghasilkan kesepakatan dan tindak lanjut. “Bukan forum tegang atau saling menyalahkan,” tegasnya.
Lalu ada Ormawa Edukasi Festival panggung kolaborasi seluruh organisasi mahasiswa dalam expo dan seminar inspiratif.
Dan SAHABAT (Satu Hari Aksi Baik Terpadu), gerakan sosial satu hari penuh sebagai bukti mahasiswa tak hanya pandai bersuara, tapi juga berbagi.
“Saya akan merangkul semua mahasiswa,” janjinya.
Di tengah hiruk-pikuk politik kampus yang kerap diwarnai ketegangan, Abel datang dengan secangkir kopi dan ajakan duduk bersama.
Pertanyaannya: akankah program-program unggulan ini benar-benar membawa perubahan atau sekadar jargon manis? Mahasiswa UIN Jambi menanti bukti.
(sn)

















Discussion about this post